DKM AN-NAHL FKH IPB
Inspiration Vet Muslim

Tim Peneliti Jerman Berhasil Kembangkan Obat Anti-Malaria Sintetis

January 26th 2012 in Info

Malaria adalah penyakit yang bisa dicegah dan diobati, namun Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan penyakit itu diderita 216 juta orang di 106 negara di seluruh dunia, dan membunuh 655.000 orang tahun 2010. Enam puluh persen kematian terjadi di Afrika.

Artemisinin telah digunakan ribuan tahun dalam pengobatan tradisional Tionghoa. Obat campuran artemisinin modern adalah unsur penting dalam pemberantasan malaria, tetapi produksi obat itu mahal dan terbatasnya tanaman untuk membuat obat itu kerap mengakibatkan kelangkaan.

Selain murah dan mudah, para ilmuwan pada Lembaga Max Planck di Postdam, Jerman, mengatakan cara produksi yang mereka lakukan tidak tergantung pada tanaman yang merupakan unsur aktif obat itu, dan mereka bisa membuat artemisinin sintetis kurang dari lima menit.

Para peneliti itu yakin penemuan mereka berpotensi untuk menjamin pasokan artemisinin secara berkesinambungan dan murah bagi sekitar 200 juta penderita di negara berkembang yang saat ini hampir tidak punya akses untuk memperoleh obat-obatan.

Para peneliti di Lembaga Max Plank mengatakan artemisinin yang mereka produksi menggunakan zat yang dihasilkan dari ragi yang dimodifikasi secara genetik dengan menggunakan proses perubahan kimia sederhana yang digerakkan oleh sinar ultraviolet (UV). Perusahaan-perusahaan farmasi saat ini tidak menggunakan proses fotokimia ini karena sulit untuk dikontrol dalam jumlah besar.

Namun, para ilmuwan di Lembaga Plank mengatakan mereka mengatasi masalah itu dengan memasukkan canpuran unsur obat melalui tabung kecil yang dililit lampu UV. Sinar UV menembus keseluruhan campuran di dalam tabung itu, memicu proses perubahan kimia yang menghasilkan artemisinin hanya dalam beberapa menit.

Artikel yang menjelaskan proses baru yang cepat pembuatan artemisinin sintetis diterbitkan dalam jurnal Applied Chemistry (Angewandte Chemie).

Share

Comments are closed.

Seekor keong muda tampak memperhatikan kegiatan satwa di kelilingnya. Ada burung-burung yang mampu terbang tinggi. Sejumlah kelinci yang asyik berlari-larian di rerumputan hijau, melompat kesana dan kemari. Ikan-ikan yang begitu menikmati sejuknya alam air danau yang begitu luas.

“Aih asyiknya mereka,” ucap sang keong menampakkan kekaguman.

Saat itu juga, sang keong muda menyadari sesuatu dari dirinya yang […]

Share
Previous Entry

Karena keasaman laut secara alami bervariasi dari satu daerah ke daerah lainnya dan dari tahun ke tahun berikutnya, sulit untuk mendeteksi seberapa banyak aktivitas manusia menyumbang pada masalah itu. Dalam sebuah studi yang dilaporkan jurnal Nature Climate Change, para ilmuwan melihat 21.000 tahun ke belakang sejarah iklim untuk mengamati beberapa petunjuk.

Tobias Friedrich, akademis post-doktoral di […]

Share
Next Entry

Archives