DKM AN-NAHL FKH IPB
Inspiration Vet Muslim

Flu Burung Merebak?! Saatnya Sayangi Hewan di Lingkungan Kita

February 16th 2012 in Syiar

1328792084881603189

 

Flu Burung merebak?! Saatnya Sayangi Hewan di Lingkungan Kita

Flu Burung atau yang dikenal dengan bahasa Ilmiah Avian Influenza (AI) kini kembali menjadi isu panas di tanah air. Dengan kembali memakan korban akibat virus ini, seolah kita diingatkan kembali keganasan virus yang pernah merenggut nyawa ratusan orang di seluruh tanah air hingga dunia. Seperti banjir yang menghantui warga Jakarta yang tinggal di dataran rendah, Flu Burung juga terus menghantui masyarakat di Indonesia. Walau sudah dilakukan pencegahan dan penanganan di seluruh daerah di Indonesia, namun tetap saja ada korban dan kerugian akibat serangan virus ini. Banyak yang bertanya mengapa virus ini tetap eksis di Indonesia?, tanpa disadari atau tidak kita menjadi aktor dalam penyebaran virus Flu Burung ini dengan cepat.

Avian Influenza

Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) atau yang dikenal dengan Avian Influenza (AI) adalah salah satu penyakit yang berbahaya di dunia dengan tingkat penyebaran dan penginfeksian yang begitu cepat. Selain itu, virus ini bersifat Zoonosis artinya dapat menyebar dan menyakiti manusia. Hal ini terbukti dari banyaknya korban yang terinfeksi akibat virus ini di dunia. Menurut data dari World Health Organization (WHO), penyakit ini pertama menyerang manusia dengan strains H5N1 di Hongkong pada tahun 1997 yang dimana 6 dari 18 orang yang terinfeksi meninggal. Hingga saat ini telah berkembang dan ditemukan berbagai strain virus yang berbahaya pula serta tak kalah kuatnya dengan strain H5N1. Di Indonesia, selain menyebabkan kerugian akibat banyaknya unggas yang mati, virus ini juga tetap mengancam setiap saat masyarakat. Identifikasi adanya pertama kali penyakit yang memiliki Family Orthomyxoviridae ini di Indonesia pada tahun 2003. sejak itu, muncul berbagai permasalahan dan isu yang mencuat terkait penyakit Avian Influenza (AI). Virus Avian Influenza (AI) sendiri adalah salah satu dari virus influenza tipe A. Tidak hanya menginfeksi pada hewan unggas, Virus influenza tipe A sendiri dapat menginfeksi ke berbagai hewan mamalia seperti babi, kuda, kucing, harimau, macan tutul hingga mamalia laut. Penularan Avian Inflenza (AI) secara umum dapat melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi. Adapun media penularan seperti feses, air minum ,udara serta peralatan kandang yang tercemar turut pula adil dalam penularan. Tidak hanya itu, hingga pekerja kandang, kendaraan pengangkut, pakan, dan lain-lain yang berasal dari daerah tercemar pun merupakan media sekunder yang baik dalam penularan. Kemampuan penginfeksian dan penularan yang dimiliki inilah yang kemudian menyebar dengan cepat di lingkungan masyarakat, apalagi jika lingkungan yang menyangkut ecology hubungan manusia dengan hewan tidak terjaga dengan baik.

Mengasihi dan Menyayangi hewan di lingkungan

 

Islam merupakan agama yang indah dan penuh kasih sayang, melihat firman Allah swt : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam
(Q.S. Al-Anbiyaa’ [21]:107), maka pada dasarnya seorang muslim dalam berkehidupan diharapkan mampu membawa manfaat tidak hanya sebagai seorang individual dalam berkehidupan sosial, namun juga seorang individual dalam lingkungannya baik tumbuhan (flora) dan hewan (fauna) di alam semesta ini. Nabi Muhammad saw sendiri sebagai seorang manusia memberikan contoh kepada umatnya betapa islam memandang pentingnya menyayangi hewan, terutama jika hewan tersebut sangat membantu atau membawa manfaat bagi kita. Dari al-Qasim bin Abdurrahman dari Abi Umamah secara marfu’ meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, “Orang yang mau menyayangi binatang sembelihannya, walau hanya seekor burung, maka Allah akan memberikan rahmat kepadanya kelak di hari kiamat” ( H.R. Bukhari [al-Adab al-Mufrad 373], ath-Thabrani [al-Mu’jam ash-Shaghir 60 dan al-Ausath Juz 1/121/1], Ahmad [3/436 dan 5/34] ). Dari hadits tersebut kita bisa mengambil sebuah hikmah bahwa walau hanya seekor burung saja, apabila kita tetap mau menyayangi maka balasannya adalah rahmat Allah swt di hari kiamat kelak. Maka akan timbul pertanyaan apabila seekor saja bisa mendapatkan rahmat Allah swt bagaimana jika lebih dari itu?. Tentu jawabannya hanya Allah swt lah yang tahu persis balasan yang setimpal bagi hamba-hambaNya.

Dengan melihat bahwa Islam sangatlah memperhatikan akan mengasihi dan menyayangi hewan tentu ada sebuah manfaat yang akan diperoleh. Apalagi jika terkait dengan penyakit Flu Burung. Awal mula virus Avian Influenza (AI) berasal dari hewan terutama unggas, namun kemudian berkembang dan akhirnya dapat menginfeksi manusia. Pola hubungan hewan dan manusia atau sebaliknya inilah yang sudah di dasari oleh Islam. Bahwa kita harus menyayangi , mengasihi dan mensejahterakan hewan yang ada termasuk dalam makan, minum serta lingkungan baik kandang hingga behavior-nya. Tentu apabila kita sudah menjaga dan mengoptimalkan pentingnya hal tersebut, maka akan terjamin ecology yang seimbang dengan baik. Di dunia kedokteran hewan terkenal dengan semboyan “Manusya Mriga Satwa Sewakayang artinya mensejahterakan hewan untuk kesejahteraan manusia. Tentu banyak filosofi yang bisa diambil dari semboyan tersebut, namun hal ini sangat penting dipahami bahwa dengan kita mensejahterakan hewan yanga ada, positive feedback akan kembali ke manusia sendiri yakni manusia akan sejahtera pula. Karena dapat dipahami bahwa di bumi yang kita tinggali saat ini manusia hidup saling berdampingan .Tidak hanya sesama manusia, namun dengan alam sekitar. Oleh karena itu, mari mulai dari diri kita menyayangi hewan sekitar demi kehidupan yang lebih baik.

 

Muhammad Viqih

 

Mahasiswa S1 FKH IPB & Ketua DKM An-Nahl FKH IPB

Share

Comments are closed.

Menyayangi Hewan: Melatih Sifat Rahmat Bagi Alam Semesta
Oleh : Sukma Budi

Apakah benar Islam mengajarkan “Teror”? artikel ini sedikit menguraikan salah satu ajaran Islam yang dapat membuktikan Islam tidak pernah mengajarkan terorisme di mana dalam artikel ini akan diuraikan tentang ajaran Islam untuk menyayangi hewan, dengan kata lain, kepada hewan pun Islam punya aturan ketat untuk […]

Share
Previous Entry

Pembukaan Beasiswa Coca-Cola Foundation Indonesia Tahun 2012

Persyaratan Beasiswa Coca-Cola Foundation Indonesia :

Mengisi formulir aplikasi

Sedang aktif mengambil kuliah S1 (sarjana) reguler,
Minimum sedang kuliah di tahun ke-3 dengan minimal sudah menempuh 90 SKS,
Nilai IPK rata-rata tidak kurang dari 2.75 dari skala 4 (dengan melampirkan copy laporan
akademis yang telah dilegalisir fakultas bersangkutan),
Tidak sedang menerima beasiswa dari pihak lain
Direkomendasikan […]

Share
Next Entry

Archives