DKM AN-NAHL FKH IPB
Inspiration Vet Muslim

Penggunaan Antibiotik yang Tepat dapat Mengurangi Resiko Multi-Resistensi pada Bakteri

March 31st 2012 in Info

“Pemilihan antibiotik yang tepat pada awal pertama terapi dapat mengurangi resiko multiresistensi bakteri terhadap antibiotik”, demikian disampaikan oleh Dr. Shabbir Simjee pada Seminar Departemen AFF hari ini, Kamis 29 Maret 2012. Dr Simje merupakan tenaga ahli dari Elanco Animal Health yang menyampaikan topik “Antibiotics in Food Animal”.

Penyaji memulai pemaparannya dengan penjelasan tentang beberapa bakteri yang umum dijumpai pada animal dan human health, meliputi Salmonella enterica, Campylobacter jejuni, Escherichia coli dan Enterococcus sp.. Salmonella enterica merupakan bakteri gram negatif bersifat patogen, memiliki morbiditas yang tinggi dan kadang-kadang bisa menyebabkan mortalitas, serta memiliki kemampuan multiresitensi terhadap antibiotik. Campylobacter jejuni merupakan gram positif, morbiditas tinggi, mortalitas rendah serta tidak memiliki multiresitensi terhadap antibiotik. Escherichia coli bakteri gram negatif, umumnya bersifat komensalisme, merupakan organisme indikator, dan penyebab enterohemorrhagic (EHEC). Enterococcus merupakan bakteri gram positif yang juga bersifat komensalisme dan sebagai indikator bagi gen resistensi.

Penggunaan antibiotik berspektrum luas (broad spectrum) pada awal terapi tidak hanya akan menyebabkan peningkatan multiresistensi tetapi juga sifat resistensi dapat menyebar ke galur bakteri yang lain sebagai akibat pertukaran DNA melalui proses konyugasi dan transduksi. Penggunaan antibiotik broad spectrum sebagai pemacu pertubuhan (AGPs) yang diberikan melalui pakan juga harus menjadi perhatian. Antibiotik sebagai terapi awal maupun didalam pakan sebaiknya menggunakan antibiotik berspektrum sempit (lebih spesifik) sehingga dapat mencapai target yang lebih spesifik dan mengurangi resiko multiresistensi pada bakteri.

Negara-negara Eropa telah memberlakukan pelarangan penggunaan antibiotic growth promotors (AGPs) sebagai upaya mengontrol resiko multi resistensi pada bakteri. Meskipun demikian tingkat multiresistensi tetap terus meningkat. Menurut Drh Abadi Soetisna, di Indonesia penggunaan AGPs masih diperbolehkan selama antibiotik tersebut tidak digunakan pada pengobatan manusia, serta tidak meninggalkan residu di dalam tubuh hewan, jadi langsung dapat dikeluarkan dari tubuh dan didegradasi oleh alam.

Menurut Penyaji, perlu diperhatikan dari aspek legilasi, aspek veteriner dan aspek managemen resiko. Aspek legilasi meliputi pengaturan penggunaan antibiotik di dalam pakan dan terapi, aspek veteriner meliputi edukasi kepada para dokter hewan tentang strategi pengurangan dan pencegahan multiresistensi bakteri serta penggunaan antibiotik secara tepat, dan aspek managemen resiko meliputi survey dan penelitian jenis-jenis bakteri yang mengalami resistensi serta pengontrolan laju multiresistensi pada bakteri.

Di akhir presentasi ditutup dengan himbauan “gunakanlah jenis antibiotik yang tepat, dalam jumlah yang tepat, melalui rute aplikasi yang tepat untuk periode waktu yang tepat”. Use the right drug in the right amount by the right route for the right period of time……………..

 

SUMBER : AFF FKH IPB

Share

Comments are closed.

Previous Entry

Coming Soon ….
” Bee’s Print ”
Tempat : Skret DKM ANNAHL Lv.3 (samping lab.mikrob)

Menyediakan jasa pelayanan Print bewarna/hitam putih, SCAN,Photocopy bewarna/nonwarna di lingkungan FKH IPB

Harga Insyallah sesuai kantong mahasiswa deh…
^_^…

Share
Next Entry

Archives