DKM AN-NAHL FKH IPB
Inspiration Vet Muslim

Banyak Habis Sedikit Cukup: Fleksibilitas Adaptasi Mahasiswa Terhadap Kondisi Keuangan Bulanan Mahasiswa

March 10th 2014 in Syiar

Ada istilah tanggal tua dan tanggal muda yang berlaku di masyarakat termasuk mahasiswa. Tanggal tua adalah tanggal-tangal di akhir bulan sementara tanggal muda adalah adalah tanggal-tanggal di awal bulan. Bagi mahasiswa tanggal tua adalah tanggal yang penuh denga ujian. Semua harus benar-benar di manage sedemikain rupa agar keuangan tidak defisit. Uang sebesar Rp 20.000,000 adalah uang untuk lima hari sementara di hari-hari biasa uang sebesar itu hanya untuk satu hari. Sungguh ironi namun begitulah kehidupan mahasiswa. Banyak habis sedikit cukup. Jika diawal bulan uang berlimpah ruah namun serasa tidak cukup untuk satu bulan karena ada saja keperuan lain yang tidak terduga-duga yang mengacaukan rencana keuangan bulanan.

Ada mahasiwa yang mendapatkan uang bulan dari orang tuanya. Ada mahasiwa yang menggantungkan hidupnya dari beasiswa. Ada yang berwirausaha, menulis atau mengajar bimbel. Ada juga mahasiswa yang hidupnya menumpang, jadi benar-benar mengharapakan belas kasihan orang lain. Hanya sedikit sekali mahasiswa yang bisa hidup mandiri dan berpenghasilan. Tapi ada juga mahasiswa yang uangnya pas-pasan namun uang tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Semuanya bisa mereka lakukan karena manajemen keuangan yang baik. Pengeluaran di atur sedemikian rupa. Barang-barang yang dibeli benar-benar barang yang menjadi kebutuhan.  Kebanyakan mahasiswa senang membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan sehingga pengeluaran terkonsentrasi pada hal yang tidak diinginkan akibatnya uang yang seharusnya untuk keperluan lain yang sifatnya merupakan kebutuhan menjadi terpakai.

Fakta yang manarik dari managerial keuangan mahasiswa adalah kemampuan akan fleksibilitas terhadap kondisi-kondisi yang sedang terjadi. Jika tidak mampu melakukan hal tersebut maka akan terseleski dengan sendirinya oleh alam, artinya tidak bisa lagi melanjutkan kuliah. Kuliah tanpa biaya hidup sama saja bunuh diri. Fleksibilitas tersebut sebenarnya lebih mirip  adaptasi lingkungan. Jika kondisi sulit semuanya bisa disesuaikan. Pengeluaran bisa ditekan sampai kepada titik terendah. Hal-hal yang tidak menjadi kebutuhan tidak akan ada dengan sendirinya. Uang yang tersisia benar-benar termaksimalkan dengan baik. Doa selalu dipanjatkan dan sepertinya kehidupan di akhir bulan adalah kehidupan yang berat. Dari sini dapat dilihat kalau mahasiswa melakukan langkah antisipiatif dalam mempertahankan hidupn atau  kuliahnya.

Keadaan akan berubah ketika kondisi telah mulai membaik lagi. Saat uang sudah turun atau kiriman sudah datang, bentuk adapatasi tadi akan langsung berubah. Jika sebelumnya sedikit cukup maka sekarang dengan kondisi yang sudah berlebih semuanya menjadi jelas dan terang. Ada daftar barang-barang yang ingin dibeli dan  tidak terbayangkan sebelumnya di masa-masa sulit. Sungguh aneh tapi tabiat umum seorang mahasiswa adalah seperti itu. Ketidakteguhan seorang mahasiswa bisa dilihat dari indikator ini sebenarnaya, jika masalah fleksibilitas ini dijadikan indikator. Adapatasi yang salah dan orientasi jangak pendek, mungkin bisa dibilang seperti itu. Ketidakteguahan ini akan mengakibatkan karakter mahasiswa yang tidak bia mandiri, lemah, tidak ada perndirian, dan terlalu terpaku dengan kondisi lingkungan. Jika karakter ini terus dipakai oleh seorang mahasiswa alamat permasalahan –permasalahan yang ada idi masyarakat menjadi terabaikan karena kapasitas dari mahaiswa yang masih setara dengan masyarakat yang akan dibina.

Oleh karena itu mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang bisa mengatur dirinya sendiri, keuangan, waktu dan interaksi dengan masyarakat. Terbiasa dengan manajeman yang baik akan menciptakn karakter yang teguh pendirian dan kuat. Orang-orang yang berhasil adalah orang-orang yang bisa melakuakan manajemen yang baik yang mencakup semua hal. Banyak lulusan sarjana  yang  menjadi job seeker. Hal ini  jelas akan menimbulkan masalah baru. Mahasiswa sebagai problem solver harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk oran lain dengan cara menjadi entrepreneur muda.  Tidak ada gunanya jika seornag yang dibina untuk memecahkan masalah namun tabiatnya sendiri adalah tabiat-tabiat yang bermasalah.

  By: M. Zulfitra Rahmat/ B04110077 Staf syiar

Share

Comments are closed.

 Zaman jahiliyah adalah zaman ketika Rasulullah belum datang menyampaikan islam. Masyarakat pada zaman itu disebut dengan masyarakat jahiliyah yang yang berperilaku jauh menyimpang dari ajaran-ajaran agama samawi sebelumnya.  Salah satu perilaku  yang sangat jauh menyimpang dari ajaran agama adalah penyembahan atas berhala.  Kesyirikan yang di lakukan menunjukan kejahilan telah menjadi warisan turun-temurun. Berhala-berhala yang dijadikan […]

Share
Previous Entry

Penyembelihan hewan dengan cara Islami terlihat penuh darah dan mengerikan. Beberapa mengatakan cara seperti ini tidak manusiawi dan sadis. Tapi penelitian membuktikan, cara membunuh seperti ini justru yang paling baik untuk hewan.
Dalam laporan hasil penelitian yang dilansir Islamweb.net seperti dikutip VIVAnews, disebutkan hewan tidak merasakan rasa sakit saat disembelih. Ketika urat nadi yang terletak di bagian depan tenggorokan […]

Share
Next Entry

Archives